.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Minggu, 18 Desember 2016

E-Training Pemanfaatan IT dalam Pembelajaran

TIK atau ICT atau IT merupakan salah satu media pembelajaran yang sangat efektif bagi guru untuk membangun pengetahuan peserta didik. Apalagi pada zaman sekarang perkembangan teknologi semakin pesat perkembangannya. Jika kita tidak mengenal dan mengikuti perkembangan IT tersebut, maka dapat dipastikan guru akan ketinggalan jauh dari peserta didiknya. Di negara-negara berkembang, sebagian besar proses pembelajaran berlangsung menggunakan media IT. Banyak media yang dapat digunakan dalam pembelajaran kaitannya dengan IT, misalnya, LCD, Notebook, Televisi, Internet, dan sebagainya. 

Penggunaan IT tersebut tentunya dapat menunjang dan membantu para pendidik dalam menyampaikan sebuah materi pelajaran. Begitupun para siswa, akan dengan mudah tertarik dan kemudian diharapkan dapat memahami apa yang disampaikan oleh guru. Kualitas pembelajaran dapat dilihat dari dua segi, yaitu: segi proses dan segi hasil pembelajaran. Peningkatan kualitas pembelajaran dari segi proses merupakan upaya-upaya untuk memperbaiki kualitas proses pembelajaran yang mengarah kepada terjadinya prakarsa belajar oleh peserta didik. Hal ini hanya bisa terjadi jika strategi pembelajaran yang digunakan berangkat dari landasan teoretik yang cocok, yaitu yang lebih memberi peluang kepada peserta didik untuk mengalami growth of learning. Pembelajaran yang berkualitas juga mencerminkan adanya lingkungan belajar yang memungkinkan peserta didik dapat melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya, melakukan pilihan-pilihan yang memungkinkannya terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, serta lingkungan yang memberinya kebebasan menentukan pilihan belajar sesuai dengan kemampuan dan kemauannya. 

Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran menjadi tuntutan yang mendesak di abad 21. Guru memiliki peranan yang strategis dalam satuan pendidikan. Oleh karena itu penggunaan TIK di sekolah hendaknya dimulai dari titik pangkal yang strategis pula yaitu guru. IT atau TIK memilliki tiga fungsi utama yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, yaitu : Teknologi berfungsi sebagai alat bantu bagi guru atau peserta didik untuk membantu pembelajaran, misalnya dalam mengolah kata, mengolah angka, membuat unsur grafis, membuat database, membuat program administrasi. Teknologi berfungsi sebagai ilmu pengetahuan, misalnya teknologi komputer dipelajari oleh beberapa jurusan di perguruan tinggi seperti informatika, manajemen informasi, ilmu komputer. dalam pembelajaran di sekolah sesuai kurikulum 2006 terdapat mata pelajaran TIK. Teknologi berfungsi sebagai bahan dan alat bantu untuk pembelajaran (literacy). Teknologi dimaknai sebagai bahan pembelajaran sekaligus sebagai alat bantu untuk menguasai sebuah kompetensi berbantuan komputer. Namun, fakta di lapangan masih banyak ditemukan guru-guru tidak dapat menggunakan perangkat IT (komputer). Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi pemanfaatan IT dalam pembelajaran. 

Sudah sering kita mendengar himbauan dari dinas terkait dan berbagai kalangan agar guru secara mandiri menggunakan sebagian tunjangan profesionalnya untuk meningkatkan kompetensinya, termasuk kemampuan menggunakan IT. Untuk maksud tersebut, diklat online merupakan solusi cerdas karena pelaksanaannya sangat fleksibel. Diklat online dapat diikuti oleh semua kalangan yang tidak terikat tempat dan waktu. Syarat utama yang diperlukan hanya koneksi internet dan mempunyai rasa ingin tahu.

Panduan Penilaian SMP 2016

Hasil monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum 2013 tingkat SMP pada 2014 menunjukkan bahwa salah satu kesulitan pendidik dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013 adalah dalam melaksanakan penilaian. Sekitar 60% responden pendidik menyatakan, mereka belum dapat merancang, melaksanakan, mengolah, melaporkan, dan memanfaatkan hasil penilaian dengan baik. Kesulitan utama yang dihadapi pendidik: merumuskan indikator, menyusun butir-butir instrumen, dan melaksanakan penilaian sikap dengan berbagai macam teknik. Selain itu, banyak di antara pendidik yang kurang percaya diri dalam melaksanakan penilaian keterampilan.
Mereka belum sepenuhnya memahami bagaimana menyusun instrumen dan rubrik penilaian keterampilan. Kesulitan lain yang banyak dikeluhkan pendidik berkaitan dengan penulisan deskripsi capaian aspek sikap, aspek pengetahuan, dan aspek keterampilan. Di samping itu, sejumlah pendidik mengaku bahwa mereka belum percaya diri dalam mengembangkan butir-butir soal pengetahuan. Mereka kurang memahami bagaimana merumuskan indikatordan menyusun butir-butir soal untuk pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif yang dikombinasikan dengan keterampilan berpikir tingkat rendah hingga tinggi.
Satuan pendidikan mengalami kesulitan dalam menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), merumuskan kriteria kenaikan kelas, dan kriteria kelulusan peserta didik. Permasalahan lain yang sering muncul adalah penetapan KKM dan secara teknis menerapkannya pada setiap Kompetensi Dasar (KD)
sebagai kompetensi minimal untuk selanjutnya menjadi KKM mata pelajaran.
Di samping itu, pendidik mengalami kesulitan dalam menentukan nilai hasil remedial berkaitan dengan KKM.
Berdasarkan permasalahan tersebut sehingga diperlukan sebuah Panduan Penilaian.
Panduan penilaian terbaru tahun 2016 dapat di unduh pada link berikut :
Semoga bermanfaat

Jumat, 21 Oktober 2016

DIKLAT CALON KEPALA SEKOLAH TAHUN 2016

Permendiknas No.28 Tahun 2010 tentang penugasan guru sebagai Kepala Sekolah menguraikan syarat-syarat dan tahapan yang harus dilalui seorang guru untuk dapat diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah. Menurut Permendiknas No.13 Tahun 2007 tentang standar kepala sekolah menyatakan bahwa Kepala sekolah sebagai pimpinan tertinggi di sekolah dituntut memiliki 5 kompetensi, yaitu 1) kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial. Sebagai konsekuensinya, secara akademik diklat cakep harus menjamin adanya peningkatan ke 5 kompetensi tersebut.
Dengan maksud tersebut, Pemerintah Kota Baubau menyelenggarakan Diklat Cakep Tahun 2016 bekerja sama dengan LPPKS Indonesia. Diklat dibuka oleh Wali Kota Baubau Bapak Drs. AS Thamrin, MH dan dihadiri oleh Wakil Wali Kota Baubau, Sekretaris Daerah Kota Baubau, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Baubau, dan sejumlah pejabat lainnya.
Acara akan berlangsung mulai tanggal 13 September dan direncanakan akan berakhir 10 Desember 2016.
Diklat akan berlangsung dalam tiga tahap, yaitu :
1. In Service Learning 1 (13 - 19 September 2016)
2. On The Job Learning (20 September - 6 Desember 2016)
3. In Service Learning 2 (7 - 10 Desember 2016)
Master Trainer kegiatan ini berasal dari Widyaiswara LPPKS Indonesia, LPMP Sultra, LPMP Sulsel, LPMP Jawa Timur, LPMP Jateng.


Semoga Kegiatan ini dapat melahirkan calon-calon kepala sekolah yang memiliki kompetensi kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi dan sosial yang tinggi. Dengan demikian akan mempercepat upaya peningkatan mutu pendidikan di Kota Baubau.
Semoga....

Selasa, 11 Oktober 2016

Buku Kurikulum 2013 Revisi 2016

Perlu diketahui bahwa buku-buku keurikulum 2013 sebelumnya tidak salah dalam hal materi, perubahan edisi revisi yang terjadi lebih kepada urutan penyajiannya disesuaikan dengan kompetensi dasarnya, bahasa, dan selanjutnya ditambahkan informasi tentang penulis dan editornya yang dapat dihubungi oleh pengguna buku. Berikut link download beberapa beberapa buku edisi revisi terbaru (2016):

1. Buku IPA Kelas VII
2. Buku Matematika Kelas VII
3. Buku IPS Kelas VII
4. Untuk buku lainnya, silahkan klik di sini
 
Semoga bermanfaat ...

Selasa, 27 September 2016

LITERASI IT MELALUI DOGMIT INDONESIA

Kegiatan literasi selama ini dikenal dengan membaca dan menulis, namun deklarasi Praha (2003) menyebutkan bahwa literasi juga mencakup cara seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya (Unesco, 2003). Deklarasi UNESCO itu juga menyebutkan bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Kemampuan-kemampuan itu perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi dan itu merupakan bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat. 

Menurut Direktorat PSMP (2016) literasi adalah kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas. Dengan gerakan literasi ini diharapkan kita memperoleh informasi yang seluas-luasnya dan menjadi seorang pembelajar sejati. Salah satu komponen literasi adalah literasi media dan literasi teknologi, yaitu kemampuan mengetahui berbagai bentuk media dan etika dalam memanfaatkan teknologi. Kemampuan memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Kementerian dan Pendidikan dan Kebudayaan saat ini sedang giat-giatnya mengembangkan gerakan literasi sekolah (GLS). GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan seluruh warga sekolah sebagai bagian dari ekosistem sekolah. GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan membaca buku fiksi selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. 

Pembiasaan ini diharapkan lambat laun akan membudaya di kalangan peserta didik, seperti halnya di negara-negara yang telah maju pendidikannya. Jauh sebelum program ini diluncurkan pemerintah, DOGMIT telah lama memulai berperan aktif meningkatkan literasi guru-guru terhadap IT. Dogmit yang dikelola Pak Sukani ini telah menghasilkan ratusan guru yang melek IT. Berbagai testimoni mengungkapkan kepuasan dan manfaatnya mengikuti diklat online ini. Hal ini disebabkan karena diklat ini dikelola sangat fleksibel, dapat diakses, diikuti kapan, dimana, dan oleh siapa saja. Faktor lain yang membuat diklat ini digemari guru-guru Indonesia karena panduan cetaknya lengkap dan video tutorialnya yang memuat detail langkah-langkah kegiatan juga sangat jelas. Kalaupun ada yang menemuai kesulitan, peserta dapat saling membantu di forum diskusi. 
Jadi, kawan-kawan guru Indonesia tunggu apalagi, segera bergabung dengan Diklat Online Guru Melek IT (DOGMIT) Indonesia. 

Contoh Bahan Presentasi Hasil DOGMIT, angkatan 12
https://drive.google.com/open?id=0B1u1n1PyYi51anNtaEFybXRQUDQ 
 
Info selengkapnya kunjungi di alamat www.gurumelekit.com atau www.trainergurumelekit.wordpress.com atau hub. Pak Sukani 085695685815. 
Bersama dogmit pasti bisa, lets growing together.... 
Salam sukses,.
Kegaiatan literasi selama ini dikenal dengan membaca dan menulis, namun deklarasi Praha (2003) menyebutkan bahwa literasi juga mencakup cara seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya (Unesco, 2003). Deklarasi UNESCO itu juga menyebutkan bahwaliterasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi,menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Kemampuan-kemampuan itu perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi dan itu merupakan bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat. Menurut Direktorat PSMP (2016) literasi adalah kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas. Dengan gerakan literasi ini diharapkan kita memperoleh informasi yang seluas-luasnya dan menjadi seorang pembelajar sejati. Salah satu komponen literasi adalah literasi media dan literasi teknologi, yaitu kemampuan mengetahui berbagai bentuk media dan etika dalam memanfaatkan teknologi. Kemampuan memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Kementerian dan Pendidikan dan Kebudayaan saat ini sedang giat-giatnya mengembangkan gerakan literasi sekolah (GLS). GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan seluruh warga sekolah sebagai bagian dari ekosistem sekolah. GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan membaca buku fiksi selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Pembiasaan ini diharapkan lambat laun akan membudaya di kalangan peserta didik, seperti halnya di negara-negara yang telah maju pendidikannya. Jauh sebelum program ini diluncurkan pemerintah, DOGMIT telah lama memulai berperan aktif meningkatkan literasi guru-guru terhadap IT. Dogmit yang dikelola Pak Sukani ini telah menghasilkan ratusan guru yang melek IT. Berbagai testimoni mengungkapkan kepuasan dan manfaatnya mengikuti diklat online ini. Hal ini disebabkan karena diklat ini dikelola sangat fleksibel, dapat diakses, diikuti kapan, dimana, dan oleh siapa saja. Faktor lain yang membuat diklat ini digemari guru-guru Indonesia karena panduan cetaknya lengkap dan video tutorialnya yang memuat detail langkah-langkah kegiatan juga sangat jelas. Kalaupun ada yang menemuai kesulitan, peserta dapat saling membantu di forum diskusi. Jadi, kawan-kawan guru Indonesia tunggu apalagi, segera bergabung dengan Diklat Online Guru Melek IT (DOGMIT) Indonesia. Info selengkapnya kunjungi di alamat www.gurumelekit.com atau www.trainergurumelekit.wordpress.com atau hub. Pak Sukani 085695685815. Bersama dogmit pasti bisa, lets growing together.... Salam sukses,

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/abdul_salam/mencetak-guru-literat-it-melalui-dogmit-indonesia_57e13c10c923bd15160b331e
Kegaiatan literasi selama ini dikenal dengan membaca dan menulis, namun deklarasi Praha (2003) menyebutkan bahwa literasi juga mencakup cara seseorang berkomunikasi dalam masyarakat. Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa dan budaya (Unesco, 2003). Deklarasi UNESCO itu juga menyebutkan bahwaliterasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi,menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Kemampuan-kemampuan itu perlu dimiliki tiap individu sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam masyarakat informasi dan itu merupakan bagian dari hak dasar manusia menyangkut pembelajaran sepanjang hayat. Menurut Direktorat PSMP (2016) literasi adalah kemampuan mengakses, memahami dan menggunakan informasi secara cerdas. Dengan gerakan literasi ini diharapkan kita memperoleh informasi yang seluas-luasnya dan menjadi seorang pembelajar sejati. Salah satu komponen literasi adalah literasi media dan literasi teknologi, yaitu kemampuan mengetahui berbagai bentuk media dan etika dalam memanfaatkan teknologi. Kemampuan memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet. Kementerian dan Pendidikan dan Kebudayaan saat ini sedang giat-giatnya mengembangkan gerakan literasi sekolah (GLS). GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan seluruh warga sekolah sebagai bagian dari ekosistem sekolah. GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan membaca buku fiksi selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Pembiasaan ini diharapkan lambat laun akan membudaya di kalangan peserta didik, seperti halnya di negara-negara yang telah maju pendidikannya. Jauh sebelum program ini diluncurkan pemerintah, DOGMIT telah lama memulai berperan aktif meningkatkan literasi guru-guru terhadap IT. Dogmit yang dikelola Pak Sukani ini telah menghasilkan ratusan guru yang melek IT. Berbagai testimoni mengungkapkan kepuasan dan manfaatnya mengikuti diklat online ini. Hal ini disebabkan karena diklat ini dikelola sangat fleksibel, dapat diakses, diikuti kapan, dimana, dan oleh siapa saja. Faktor lain yang membuat diklat ini digemari guru-guru Indonesia karena panduan cetaknya lengkap dan video tutorialnya yang memuat detail langkah-langkah kegiatan juga sangat jelas. Kalaupun ada yang menemuai kesulitan, peserta dapat saling membantu di forum diskusi. Jadi, kawan-kawan guru Indonesia tunggu apalagi, segera bergabung dengan Diklat Online Guru Melek IT (DOGMIT) Indonesia. Info selengkapnya kunjungi di alamat www.gurumelekit.com atau www.trainergurumelekit.wordpress.com atau hub. Pak Sukani 085695685815. Bersama dogmit pasti bisa, lets growing together.... Salam sukses,

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/abdul_salam/mencetak-guru-literat-it-melalui-dogmit-indonesia_57e13c10c923bd15160b331e

Senin, 05 September 2016

Penilaian Pada Kurikulum 2013 Hasil Revisi

Salam Sukses,

Dinamika perkembangan kurikulum 2013 telah mengalami perbaikan yang cukup signifikan pada tahun 2016. Substansi perbaikan dijumpai pada :
  1. Koherensi KI - KD dan penyelarasan dokumen
  2. Penataan Kompetensi Sikap pada semua mata pelajaran
  3. Penataan Kompetensi yang tdak dibatasi oleh pemenggalan taksonomi berpikir (berpikir tingkat tinggi sejak di SD)
  4. Pemberian ruang kreatif kepada guru dalam mengimplementasikan kurikulum

Pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti (PABP) dan PPKn pembelajaran sikap spiritual dan sosial dilaksanakan melalui pembelajaran langsung dan tidak langsung. Sedangkan pada mata pelajaran lainnya, hanya dilaksanakan melalui pembelajaran tidak langsung.
Inti pembelajaran Kurikulum 2013 adalah Pembelajaran yang Berpusat pada Peserta Didik dengan Saintifik bukan pendekatan satu-satunya yang mesti digunakan. Perolehan pengetahuan bukan diberitahu tetapi difasilitasi untuk mencari tahu atau membangun sendiri pengetahuannya (inquiry) melalui interaksi sesama Peserta Didik, dengan guru dan dengan lingkungannya.
Guru mata pelajaran selain  PABP) dan PPKn menilai sikap menggunakan Jurnal Perkembangan Sikap Peserta Didik. Sedangkan penilaian ranah pengetahuan dan keterampilan masih menggunakan berbagai teknik yang pernah dikenal pada dokumen kurikulum 2013 sebelumnya.

Walaupun penilaian pada kurikulum 2013 telah disederhanakan, tetapi guru harus tetap berkreasi dan memanfaat IT dalam mengolah hasil penilaian. Oleh karena itu, dapat ditemukan beberapa aplikasi penilaian di media online/internet. Tentu saja para pengguna harus selektif dalam memilih aplikasi yang sesuai dengan petunjuk terbaru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada saat tulisan ini dipublish, Permendikbud No. 23 Tahun 2016 telah terbit tetapi lampiran dan juknis pelaksanaannya belum ada dan masih dikaji di tingkat dirjen, sehingganjuknis penilaian yang berlaku adalah juknis yang dikembangkan berdasarkan Permendikbud No. 53 Tahun 2015.

Berikut Link download Apliaksi Penilaian Kurikulum 2013 dan Aplikasi Rapor versi 2016 :
1. Apliaksi Penilaian Kurikulum 2013
    https://drive.google.com/file/d/0B1u1n1PyYi51bThGWUpUR1VkZTA/view?usp=sharing
 
2. Aplikasi Rapor Kurikulum 2013
     https://drive.google.com/file/d/0B1u1n1PyYi51bThGWUpUR1VkZTA/view?usp=sharing

Semoga dapat bermanfaat,


Selasa, 03 Mei 2016

BERGURU ETIKA DI JALANAN DAN MAKAN SIANG DI NEGERI SAKURA



Jepang sebagai salah satu negeri yang maju memiliki sistem publik yang teratur dan benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Kehidupan ekonomi atau strata ekonomi masyarakatnya relatif sama. Berbeda di tanah air, Indonesia Nampak jelas perbedaan status ekonomi seseorang dari penampilan. Jadi di Jepang boleh dikatakan tidak ada yang terlalu kaya dan tidak ada yang terlalu miskin. Merekapun rata-rata sopan-sopan, misalnya di jalan raya,  yang punya kendaraan roda empat memberi kesempatan jalan kepada yang beroda dua. Istilah orang sana, pejalan kaki menjadi raja di sini. Umumnya di Jepang penduduknya lebih menyukai berkendaraan dengan sepeda. Mental orang Jepang memang tidak dididik untuk minder ataupun sombong. Mereka memandang semua orang harus dihormati siapapun dia. Bila seorang pejalan kaki menghalangi jalan orang yang bersepeda, akan kita dapati antara si pejalan kaki dan si pengendara sepeda akan sama-sama mengucapkan kata “sumimasen atau gomen” yang artinya ”maaf”, bagaimana kedua belah pihak saling menghormati satu sama lain.  Tidak heran jika melihat seseorang yang sedang meneleponpun sambil menundukkan kepala sambil berkata “hai’”.
Di samping karena memang ada aturan yang ketat tentang kepemilikan kendaraan dan SIM, juga pajak dan ongkos parkir dibuat mahal sehingga orang akan berpikir ribuan kali jika ingin memiliki/menggunakan mobil dalam kota. Di sana malah dikatakan “kampungan” jika orang kota menggunakan mobil karena lebih banyak orang kampung yang memiliki mobil. Akibatnya,  tidak seperti keluhan di kota-kota besar di Indonesia yang sudah langganan macet, di sana jarang terjadi kemacetan dalam kota yang juga didukung oleh fasilitas jalan yang canggih seperti akses jalan bawah tanah, flyover, dan lainnya. Nampaknya pemerintah Jepang sangat memperhatikan rakyatnya dengan detail, para pejalan kaki disediakan jalan khusus minimal lebar 2 meter, bahkan mereka yang berkebutuhan khusus misalnya, tuna netra disediakan kode-kode atau tanda (bulatan) dan bel khusus di  setiap simpangan/penyeberangan.
Di negeri ini pula, orang bebas melakukan apa aja yang mereka mau selagi hal itu tidak merugikan orang lain atau menyangkut kepentingan khalayak umum. Mau mabok atau bicara sendiri kayak orang gila sekalipun tak jadi soal, di sini manusia-manusianya sibuk sendiri-sendiri. Jangan membayangkan bakal ada pandangan aneh, sinis, dan keluar kata-kata yang tidak sedap melihat pemandangan yang ada di sekitar. Dalam etika berpakaianpun tidak ada aturan baku, semua bisa jadi mode, mau si cowok pakai tas ala cewek sekalipun, itu dikatakan fashion, mau pakaian norak sekalipun tetap saja fashion. Jangan berharap orang-orang di sini akan keluar omongan-omongan miring melihat cara berpakaian orang-orang di sekitarnya. Akan berbeda dengan di tanah air, kebanyakan remaja yang cenderung terpengaruh dengan budaya barat mengikuti gaya artis barat modern. Sekedar informasi bahwa di Jepang sulit menemukan siaran TV luar, mereka sangat memproteksi perkembangan anak-anaknya dari pengaruh dunia luar yang tidak sesuai budaya Jepang. Jepang juga melarang siswa-siswa SD dan SMP (belum dewasa) membawa handphone (hp) ke sekolah, kalaupun ada sekolah swasta yang membolehkan bawa hp pasti harus dititipkan di tempat tertentu. Jadi, tidak ada siswa yang mengutak-atik hp sementara pelajaran berlangsung. Di Indonesia, malah ada anak sekolah yang bawa dua handphone, semoga di Indonesia juga sudah ada sekolah yang melaksanakan hal ini, patut dicontoh.
Pertama kali menginjakkan kaki di Tokyo dan kota-kota lainnya di Jepang, pemandangan dan kesan pertama adalah tidak ditemuinya sampah-sampah berserakan.  Mereka begitu disiplin menjaga kebersihan, mereka rela tasnya kotor dipenuhi sampah-sampah makanan atau minuman daripada membuangnya di sembarang tempat. Memang sejak kecil orang Jepang diajarkan untuk disiplin menjaga kebersihan, di beberapa sekolah yang kami kunjungi tidak ditemukan cleaning service, tetapi sekolahnya bersih-bersih. Kami menyaksikan sendiri ketika guru-guru selesai makan bersama, masing-masing dengan cekatan mengumpulkan sampah-sampah sisa makanan dan mencuci peralatan makannya sendiri. Suatu kejadian yang membuat kami takjub karena melalui kegiatan makan siang bersama di sekolah banyak pelajaran yang bisa berharga dipetik.
Di Jepang, anak-anak sekolah mulai belajar sekitar jam 8.30 – 15.30 dan jika ada kegiatan ekstrakurikuler hari itu akan dilanjutkan sampai jam 17.30, jadi kemungkinan mereka baru sampai di rumah malam pada hari itu. Orang tua tidak perlu repot-repot memikirkan dan menyediakan makanan siang anaknya karena menu makanan yang disajikan sudah diatur dan ditentukan oleh ahli gizi. Biasanya menu akan berlaku selama sebulan dan bulan depannya akan berganti dengan standar gizi yang sama. Mereka tampak lahap menyantap menu yang disediakan, tak satupun yang tidak menghabiskan makanannya. Sebagai orang tua, betapa bahagianya melihat mereka makan dengan lahap tanpa pernah mengeluh makanannya tidak enak, bergizi pula. Bandingkan anak-anak kita yang sering mengeluh jika menu yang tersedia tidak sesuai dengan kesukaan mereka, apalagi kalau bukan makanan instan yang konon telah membuat anak-anak kita, generasi penerus yang lemah fisik gampang terkena penyakit.
Di sisi lain, acara makan siang juga menjadi ajang melatih disiplin anak-anak mereka dalam bekerja sama denga tim atau kelompok. Secara bergantian, di tiap kelas ada kelompok yang bertugas menyiapkan/menyajikan makanan untuk teman-temannya di kelas. Mulai menyajikan/membagi dalam makanan secara adil dalam piring-piring yang dilakukan di ruang tertentu, kemudian mengantarkannya ke kelas. Setelah semua teman-temannya mendapat bagian, kemudian makan bersama juga secara berkelompok sambil berinteraksi sesamanya. Yang menariknya lagi jika ada kelebihan makanan, misalnya ikan atau buah setelah semua mendapat bagian, maka bagi mereka yang menginginkannya tidak boleh langsung mengambilnya. Petugas tadi akan menanyakan kepada semua temannya dalam ruangan dan jika jumlah anak yang berminat lebih banyak dari pada makanan yang akan dibagi, mereka yang berminat akan diundi atau melakukan shut sampai jumlah siswa yang tersisa sama dengan jumlah makanan tadi. Cara ini sebenarnya melatih siswa berlaku jujur dan adil.
Setelah selesai makan mereka mengumpulkan pembungkus susu yang telah diminum untuk diserahkan ke pengelola daur ulang. Peralatan makan kemudian kembali dibawa ke dapur umum untuk dicuci oleh tim/kelompok tadi lalu diserahkan kepada pihak kantin atau yang menyediakan makanan. Kegiatan itu terus dilakukan setiap hari sampai sudah menjadi tradisi yang membanggakan.
Suatu kejadian menarik di SMP Kambara Provinsi Shizuoka, ketika anak-anak sekolah yang bertugas membagikan makanan untuk teman-temannya hari itu tidak sengaja bersenggolan dengan teman lainnya menyebabkan ada air minum yang tertumpah di tangga menuju lantai dua, dengan cekatan Kepala Sekolah langsung berlarian masuk ruangan membuat kami kaget, ternyata Sang Kepala Sekolah masuk mengambil lap dan langsung melapnya sendiri sampai kering tanpa menyuruh siswa atau guru-guru lainnya yang juga ada di situ. Hal sepele tetapi akan memberi dampak dan menjadi contoh yang sangat baik untuk kita semua, bahwa atasan saja dengan sukarela melakukannya, apalagi bawahannya.
Jadi dari jalanan dan kegiatan makan siang saja mereka sudah dapat menumbuhkan dan membina disiplin, rasa tanggungjawab, mandiri, terjalinnya keakraban di antara mereka, kerja sama tim, dan kemampuan interpersonal lainnya.
Sekarang pertanyaannya adalah apakah kita sebagai bangsa memiliki budaya yang sangat beragam, tidak memiliki sistem nilai atau norma warisan nenek moyang kita. Kita tentu sangat kaya dengan sistem nilai, orang melayu, orang sunda, orang jawa, orang banjar, orang bugis makassar, dan yang lainnya, masing-masing memiliki sistem nilai. Bukan hanya itu, pada umumnya masyarakat kita menganut agama tertentu dan penganut agama terbesar adalah muslim yang jika kita menyaksikan masyarakat Jepang justru telah melaksanakan prinsip-prinsip dalam islam seperti amanah, tanggungjawab, kebersihan dan disiplin serta yang lainnya. Padahal mereka dikenal dengan negeri atheis penganut Shinto (kepercayaan). Negara tidak mengurusi agama masyarakatnya yang dianggapnya sebagai urusan pribadi masing-masing individu.
Berbagai macam kelebihan tentu tidak menyebabkan mereka juga luput dari kelemahan, sehingga tidak mengherankan jika di sana mereka biasa menikah dengan ritual agama tertentu, melahirkan dengan ritual agama lain dan setelah meninggal disemayangkan abunya di kuil. Angka kematian di Jepang karena bunuh diripun merupakan yang terbanyak di dunia, sehingga dikenal ada areal hutan lebat di kaki gunung Fuji yang merupakan spot pavorit untuk bunuh diri. Ketidakjelasan agama mereka dan prinsip merasa malu jika gagal dalam tugas tertentu setelah berusaha sekuat tenaga sepertinya melegalkan cara mereka untuk bunuh diri.
Akhirnya penulis sebagai salah seorang pendidik berharap tulisan ini dapat menginspirasi siapapun untuk turut mengambil peranan dalam membangun karakter anak-anak Indonesia yang siap bersaing dengan anak-anak dari nagara lain.