Indonesia merupakan salah
satu negara berkembang dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan letak geografis
yang terdiri dari puluhan ribu pulau. Upaya meningkatkan mutu dan pemerataan
pendidikan dengan kondisi demikian
merupakan suatu tantangan besar yang memerlukan biaya fantastis dan tentu saja akan
membebani APBN. Akan tetapi upaya itu adalah amanat dari Undang-Undang sehingga
harus tetap dilaksanakan.
Peningkatan mutu
pendidikan tidak lepas dari peningkatan mutu guru sebagai ujung tombak yang
memegang peranan penting dalam pembelajaran. Di sisi lain, hasil Ujian
Kompetensi Guru (UKG) akhir tahun 2015 masih sangat memprihatinkan dan masih
jauh dari harapan. Terlepas dari kelemahan pelaksanaan UKG yang dimilikinya,
tetapi hasil ini merupakan salah satu indikator bahwa sebagian besar guru-guru
di Indonesia (2,9 juta) masih rendah kompetensinya (http://masadepanpendidik.blogspot.co.id/
2016/01/informasi-terbaru-jadwal-dan-ketentuan.html).
Hal itu dapat dimaklumi karena memang pendidikan calon guru dan sistem
rekruitmen guru belum seketat dan sebaik profesi lainnya, misalnya profesi
dokter yang harus melewati beberapa tahapan sebelum diterima sebagai PNS. Untuk
mengatasi hal ini, telah dilaksanakan berbagai kegiatan seperti revitalisasi
KKG/MGMP/MKKS, pelatihan, seminar dan kegiatan lainnya. Namun pelaksanaan
kegiatan tersebut belum menyentuh seluruh guru karena masih terkendala dengan
pembiayaan yang sangat besar. Bayangkan sebuah pelatihan yang diikuti 34 orang
mewakili provinsi masing-masing dan dilaksanakan di Jakarta, berapa biaya
hotel, biaya konsumsi, biaya perjalanan, honor peserta dan pemateri, dan biaya
lainnya. Berapa lama waktu dan biaya yang diperlukan agar seluruh guru
Indonesia (lebih 3 juta) dapat mengikuti pelatihan yang serupa?.
Menurut para pakar bahwa penyelenggaraan program
pelatihan dapat bermanfaat untuk guru, yaitu: (1) meningkatkan produktivitas kerja
guru, (2) membantu para guru membuat keputusan dengan lebih baik; (3)
meningkatkan kemampuan para guru menyelesaikan berbagai masalah yang
dihadapinya, (4) timbulnya dorongan dalam diri guru untuk terus meningkatkan
kemampuan kerjanya, (5) meningkatkan kemampuan guru untuk mengatasi stress,
frustasi dan konflik yang pada gilirannya memperbesar rasa percaya pada diri
sendiri, (6) tersedianya informasi tentang berbagai program yang dapat
dimanfaatkan oleh para guru dalam rangka pertumbuhan masing-masing secara
teknikal dan intelektual, (7) meningkatkan kepuasan kerja, (8) semakin besarnya
pengakuan atas kemampuan seseorang, (9) makin besarnya tekad guru untuk lebih
mandiri; dan (10) mengurangi ketakutan menghadapi tugas-tugas baru di masa
depan.
Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan pengaruh terhadap dunia
pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Komunikasi sebagai media
pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon,
komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi antara guru dan siswa tidak
hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan
media-media tersebut.
Solusi cerdas untuk
mengatasi masalah letak geografis, waktu dan jumlah guru serta pembiayaan telah
dilaksanakan beberapa tahun terakhir oleh pengelola diklat online guru melek IT
(DOGMIT), pak Sukani. Beliau telah aktif melaksanakan DOGMIT dalam beberapa
angkatan dan sampai tulisan ini dipublikasikan telah selesai 30 angkatan dan
sedang dilaksanakan angkatan berikutnya dengan materi berbeda (angkatan 1,
2016).
Tujuan utama kegiatan
ini adalah memfasilitasi peningkatan kompetensi guru terkait pemanfaatan IT
dalam pembelajaran, mensosialisasikan pemanfaatan diklat online sebagai salah
satu sarana memperluas upaya peningkatan kompetensi guru dan memfasilitasi guru
dalam rangka pengembangan keprofesionalan berkelanjutan (Sukani, 2016:5).
Kegiatan diklat
dikemas dengan baik dan menarik, modul dan video tutorial yang lengkap sesuai
materi pelatihan, terbuka forum yang sangat menarik tempat mendiskusikan segala
hal berkaitan materi pelatihan dan dari forum ini semua kesulitan peserta
terpecahkan dengan mudah, bukan hanya dari fasilitator tetapi juga dari seluruh
peserta dapat memberikan kontribusinya dengan tetap mendapat arahan dari pak
Sukani sebagai fasilitator diklat.
Menurut saya sebagai
peserta DOGMIT sebelumnya, setelah mengikuti kegiatan ini saya merasa lebih percaya
diri dalam pembelajaran karena telah mendapat tambahan pengetahuan tentang IT,
melalui kegiatan ini pula peserta dapat berkomunikasi dengan guru-guru dari
seluruh Indonesia, suatu kebanggaan dapat saling sharing tentang IT bahkan berbagai
hal berkaitan dengan pembelajaran di forum ini. Jadi, singkatnya kegiatan ini sangat
bermanfaat bagi mereka sebagai seorang guru
dalam mengemas pembelajarannya menjadi lebih efektif dan efisien.
Tampaknya diklat
online akan menjadi salah satu pilihan terbaik bagi pengembangan kompetensi guru
dan tenaga kependidikan lainnya di masa datang. Apapun namanya, dalam era
informasi, jarak fisik atau jarak geografis tidak lagi menjadi masalah dalam
hubungan antar manusia atau antar lembaga, sehingga pendidikan masa mendatang
akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait
pada produktivitas kerja dan kompetitif.
Akhirnya, semoga pendidikan
di Indonesia semakin maju dan mampu memberikan kontribusi pada pengembangan SDM
yang dapat bersaing di era global (#Abdul Salam). Salam sukses untuk guru-guru
Indonesia.