.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px}

Selasa, 03 Mei 2016

BERGURU ETIKA DI JALANAN DAN MAKAN SIANG DI NEGERI SAKURA



Jepang sebagai salah satu negeri yang maju memiliki sistem publik yang teratur dan benar-benar memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Kehidupan ekonomi atau strata ekonomi masyarakatnya relatif sama. Berbeda di tanah air, Indonesia Nampak jelas perbedaan status ekonomi seseorang dari penampilan. Jadi di Jepang boleh dikatakan tidak ada yang terlalu kaya dan tidak ada yang terlalu miskin. Merekapun rata-rata sopan-sopan, misalnya di jalan raya,  yang punya kendaraan roda empat memberi kesempatan jalan kepada yang beroda dua. Istilah orang sana, pejalan kaki menjadi raja di sini. Umumnya di Jepang penduduknya lebih menyukai berkendaraan dengan sepeda. Mental orang Jepang memang tidak dididik untuk minder ataupun sombong. Mereka memandang semua orang harus dihormati siapapun dia. Bila seorang pejalan kaki menghalangi jalan orang yang bersepeda, akan kita dapati antara si pejalan kaki dan si pengendara sepeda akan sama-sama mengucapkan kata “sumimasen atau gomen” yang artinya ”maaf”, bagaimana kedua belah pihak saling menghormati satu sama lain.  Tidak heran jika melihat seseorang yang sedang meneleponpun sambil menundukkan kepala sambil berkata “hai’”.
Di samping karena memang ada aturan yang ketat tentang kepemilikan kendaraan dan SIM, juga pajak dan ongkos parkir dibuat mahal sehingga orang akan berpikir ribuan kali jika ingin memiliki/menggunakan mobil dalam kota. Di sana malah dikatakan “kampungan” jika orang kota menggunakan mobil karena lebih banyak orang kampung yang memiliki mobil. Akibatnya,  tidak seperti keluhan di kota-kota besar di Indonesia yang sudah langganan macet, di sana jarang terjadi kemacetan dalam kota yang juga didukung oleh fasilitas jalan yang canggih seperti akses jalan bawah tanah, flyover, dan lainnya. Nampaknya pemerintah Jepang sangat memperhatikan rakyatnya dengan detail, para pejalan kaki disediakan jalan khusus minimal lebar 2 meter, bahkan mereka yang berkebutuhan khusus misalnya, tuna netra disediakan kode-kode atau tanda (bulatan) dan bel khusus di  setiap simpangan/penyeberangan.
Di negeri ini pula, orang bebas melakukan apa aja yang mereka mau selagi hal itu tidak merugikan orang lain atau menyangkut kepentingan khalayak umum. Mau mabok atau bicara sendiri kayak orang gila sekalipun tak jadi soal, di sini manusia-manusianya sibuk sendiri-sendiri. Jangan membayangkan bakal ada pandangan aneh, sinis, dan keluar kata-kata yang tidak sedap melihat pemandangan yang ada di sekitar. Dalam etika berpakaianpun tidak ada aturan baku, semua bisa jadi mode, mau si cowok pakai tas ala cewek sekalipun, itu dikatakan fashion, mau pakaian norak sekalipun tetap saja fashion. Jangan berharap orang-orang di sini akan keluar omongan-omongan miring melihat cara berpakaian orang-orang di sekitarnya. Akan berbeda dengan di tanah air, kebanyakan remaja yang cenderung terpengaruh dengan budaya barat mengikuti gaya artis barat modern. Sekedar informasi bahwa di Jepang sulit menemukan siaran TV luar, mereka sangat memproteksi perkembangan anak-anaknya dari pengaruh dunia luar yang tidak sesuai budaya Jepang. Jepang juga melarang siswa-siswa SD dan SMP (belum dewasa) membawa handphone (hp) ke sekolah, kalaupun ada sekolah swasta yang membolehkan bawa hp pasti harus dititipkan di tempat tertentu. Jadi, tidak ada siswa yang mengutak-atik hp sementara pelajaran berlangsung. Di Indonesia, malah ada anak sekolah yang bawa dua handphone, semoga di Indonesia juga sudah ada sekolah yang melaksanakan hal ini, patut dicontoh.
Pertama kali menginjakkan kaki di Tokyo dan kota-kota lainnya di Jepang, pemandangan dan kesan pertama adalah tidak ditemuinya sampah-sampah berserakan.  Mereka begitu disiplin menjaga kebersihan, mereka rela tasnya kotor dipenuhi sampah-sampah makanan atau minuman daripada membuangnya di sembarang tempat. Memang sejak kecil orang Jepang diajarkan untuk disiplin menjaga kebersihan, di beberapa sekolah yang kami kunjungi tidak ditemukan cleaning service, tetapi sekolahnya bersih-bersih. Kami menyaksikan sendiri ketika guru-guru selesai makan bersama, masing-masing dengan cekatan mengumpulkan sampah-sampah sisa makanan dan mencuci peralatan makannya sendiri. Suatu kejadian yang membuat kami takjub karena melalui kegiatan makan siang bersama di sekolah banyak pelajaran yang bisa berharga dipetik.
Di Jepang, anak-anak sekolah mulai belajar sekitar jam 8.30 – 15.30 dan jika ada kegiatan ekstrakurikuler hari itu akan dilanjutkan sampai jam 17.30, jadi kemungkinan mereka baru sampai di rumah malam pada hari itu. Orang tua tidak perlu repot-repot memikirkan dan menyediakan makanan siang anaknya karena menu makanan yang disajikan sudah diatur dan ditentukan oleh ahli gizi. Biasanya menu akan berlaku selama sebulan dan bulan depannya akan berganti dengan standar gizi yang sama. Mereka tampak lahap menyantap menu yang disediakan, tak satupun yang tidak menghabiskan makanannya. Sebagai orang tua, betapa bahagianya melihat mereka makan dengan lahap tanpa pernah mengeluh makanannya tidak enak, bergizi pula. Bandingkan anak-anak kita yang sering mengeluh jika menu yang tersedia tidak sesuai dengan kesukaan mereka, apalagi kalau bukan makanan instan yang konon telah membuat anak-anak kita, generasi penerus yang lemah fisik gampang terkena penyakit.
Di sisi lain, acara makan siang juga menjadi ajang melatih disiplin anak-anak mereka dalam bekerja sama denga tim atau kelompok. Secara bergantian, di tiap kelas ada kelompok yang bertugas menyiapkan/menyajikan makanan untuk teman-temannya di kelas. Mulai menyajikan/membagi dalam makanan secara adil dalam piring-piring yang dilakukan di ruang tertentu, kemudian mengantarkannya ke kelas. Setelah semua teman-temannya mendapat bagian, kemudian makan bersama juga secara berkelompok sambil berinteraksi sesamanya. Yang menariknya lagi jika ada kelebihan makanan, misalnya ikan atau buah setelah semua mendapat bagian, maka bagi mereka yang menginginkannya tidak boleh langsung mengambilnya. Petugas tadi akan menanyakan kepada semua temannya dalam ruangan dan jika jumlah anak yang berminat lebih banyak dari pada makanan yang akan dibagi, mereka yang berminat akan diundi atau melakukan shut sampai jumlah siswa yang tersisa sama dengan jumlah makanan tadi. Cara ini sebenarnya melatih siswa berlaku jujur dan adil.
Setelah selesai makan mereka mengumpulkan pembungkus susu yang telah diminum untuk diserahkan ke pengelola daur ulang. Peralatan makan kemudian kembali dibawa ke dapur umum untuk dicuci oleh tim/kelompok tadi lalu diserahkan kepada pihak kantin atau yang menyediakan makanan. Kegiatan itu terus dilakukan setiap hari sampai sudah menjadi tradisi yang membanggakan.
Suatu kejadian menarik di SMP Kambara Provinsi Shizuoka, ketika anak-anak sekolah yang bertugas membagikan makanan untuk teman-temannya hari itu tidak sengaja bersenggolan dengan teman lainnya menyebabkan ada air minum yang tertumpah di tangga menuju lantai dua, dengan cekatan Kepala Sekolah langsung berlarian masuk ruangan membuat kami kaget, ternyata Sang Kepala Sekolah masuk mengambil lap dan langsung melapnya sendiri sampai kering tanpa menyuruh siswa atau guru-guru lainnya yang juga ada di situ. Hal sepele tetapi akan memberi dampak dan menjadi contoh yang sangat baik untuk kita semua, bahwa atasan saja dengan sukarela melakukannya, apalagi bawahannya.
Jadi dari jalanan dan kegiatan makan siang saja mereka sudah dapat menumbuhkan dan membina disiplin, rasa tanggungjawab, mandiri, terjalinnya keakraban di antara mereka, kerja sama tim, dan kemampuan interpersonal lainnya.
Sekarang pertanyaannya adalah apakah kita sebagai bangsa memiliki budaya yang sangat beragam, tidak memiliki sistem nilai atau norma warisan nenek moyang kita. Kita tentu sangat kaya dengan sistem nilai, orang melayu, orang sunda, orang jawa, orang banjar, orang bugis makassar, dan yang lainnya, masing-masing memiliki sistem nilai. Bukan hanya itu, pada umumnya masyarakat kita menganut agama tertentu dan penganut agama terbesar adalah muslim yang jika kita menyaksikan masyarakat Jepang justru telah melaksanakan prinsip-prinsip dalam islam seperti amanah, tanggungjawab, kebersihan dan disiplin serta yang lainnya. Padahal mereka dikenal dengan negeri atheis penganut Shinto (kepercayaan). Negara tidak mengurusi agama masyarakatnya yang dianggapnya sebagai urusan pribadi masing-masing individu.
Berbagai macam kelebihan tentu tidak menyebabkan mereka juga luput dari kelemahan, sehingga tidak mengherankan jika di sana mereka biasa menikah dengan ritual agama tertentu, melahirkan dengan ritual agama lain dan setelah meninggal disemayangkan abunya di kuil. Angka kematian di Jepang karena bunuh diripun merupakan yang terbanyak di dunia, sehingga dikenal ada areal hutan lebat di kaki gunung Fuji yang merupakan spot pavorit untuk bunuh diri. Ketidakjelasan agama mereka dan prinsip merasa malu jika gagal dalam tugas tertentu setelah berusaha sekuat tenaga sepertinya melegalkan cara mereka untuk bunuh diri.
Akhirnya penulis sebagai salah seorang pendidik berharap tulisan ini dapat menginspirasi siapapun untuk turut mengambil peranan dalam membangun karakter anak-anak Indonesia yang siap bersaing dengan anak-anak dari nagara lain.