Jepang sebagai salah satu negeri yang maju
memiliki sistem publik yang teratur dan benar-benar memperhatikan kesejahteraan
rakyatnya. Kehidupan ekonomi atau strata ekonomi masyarakatnya relatif sama. Berbeda
di tanah air, Indonesia Nampak jelas perbedaan status ekonomi seseorang dari
penampilan. Jadi di Jepang boleh dikatakan tidak ada yang terlalu kaya dan
tidak ada yang terlalu miskin. Merekapun rata-rata sopan-sopan, misalnya di jalan
raya, yang punya kendaraan roda empat
memberi kesempatan jalan kepada yang beroda dua. Istilah orang sana, pejalan
kaki menjadi raja di sini. Umumnya di Jepang penduduknya lebih menyukai
berkendaraan dengan sepeda. Mental orang Jepang memang tidak dididik untuk
minder ataupun sombong. Mereka memandang semua orang harus dihormati siapapun
dia. Bila seorang pejalan kaki menghalangi jalan orang yang bersepeda, akan
kita dapati antara si pejalan kaki dan si pengendara sepeda akan sama-sama
mengucapkan kata “sumimasen atau gomen” yang artinya ”maaf”, bagaimana
kedua belah pihak saling menghormati satu sama lain. Tidak heran
jika melihat seseorang yang sedang meneleponpun sambil menundukkan kepala
sambil berkata “hai’”.
Di samping karena memang ada aturan yang
ketat tentang kepemilikan kendaraan dan SIM, juga pajak dan ongkos parkir
dibuat mahal sehingga orang akan berpikir ribuan kali jika ingin
memiliki/menggunakan mobil dalam kota. Di sana malah dikatakan “kampungan” jika
orang kota menggunakan mobil karena lebih banyak orang kampung yang memiliki
mobil. Akibatnya, tidak seperti keluhan
di kota-kota besar di Indonesia yang sudah langganan macet, di sana jarang
terjadi kemacetan dalam kota yang juga didukung oleh fasilitas jalan yang
canggih seperti akses jalan bawah tanah, flyover, dan lainnya. Nampaknya
pemerintah Jepang sangat memperhatikan rakyatnya dengan detail, para pejalan
kaki disediakan jalan khusus minimal lebar 2 meter, bahkan mereka yang
berkebutuhan khusus misalnya, tuna netra disediakan kode-kode atau tanda
(bulatan) dan bel khusus di setiap
simpangan/penyeberangan.
Di negeri ini pula, orang bebas
melakukan apa aja yang mereka mau selagi hal itu tidak merugikan orang lain
atau menyangkut kepentingan khalayak umum. Mau mabok atau bicara sendiri kayak
orang gila sekalipun tak jadi soal, di sini manusia-manusianya sibuk
sendiri-sendiri. Jangan membayangkan bakal ada pandangan aneh, sinis, dan
keluar kata-kata yang tidak sedap melihat pemandangan yang ada di sekitar.
Dalam etika berpakaianpun tidak ada aturan baku, semua bisa jadi mode, mau si
cowok pakai tas ala cewek sekalipun, itu dikatakan fashion, mau pakaian norak
sekalipun tetap saja fashion. Jangan berharap orang-orang di sini akan keluar
omongan-omongan miring melihat cara berpakaian orang-orang di sekitarnya. Akan berbeda
dengan di tanah air, kebanyakan remaja yang cenderung terpengaruh dengan budaya
barat mengikuti gaya artis barat modern. Sekedar informasi bahwa di Jepang
sulit menemukan siaran TV luar, mereka sangat memproteksi perkembangan
anak-anaknya dari pengaruh dunia luar yang tidak sesuai budaya Jepang. Jepang
juga melarang siswa-siswa SD dan SMP (belum dewasa) membawa handphone (hp) ke
sekolah, kalaupun ada sekolah swasta yang membolehkan bawa hp pasti harus
dititipkan di tempat tertentu. Jadi, tidak ada siswa yang mengutak-atik hp
sementara pelajaran berlangsung. Di Indonesia, malah ada anak sekolah yang bawa
dua handphone, semoga di Indonesia juga sudah ada sekolah yang melaksanakan hal
ini, patut dicontoh.
Pertama kali menginjakkan kaki di Tokyo dan
kota-kota lainnya di Jepang, pemandangan dan kesan pertama adalah tidak
ditemuinya sampah-sampah berserakan. Mereka
begitu disiplin menjaga kebersihan, mereka rela tasnya kotor dipenuhi
sampah-sampah makanan atau minuman daripada membuangnya di sembarang tempat.
Memang sejak kecil orang Jepang diajarkan untuk disiplin menjaga kebersihan, di
beberapa sekolah yang kami kunjungi tidak ditemukan cleaning service, tetapi sekolahnya bersih-bersih. Kami menyaksikan
sendiri ketika guru-guru selesai makan bersama, masing-masing dengan cekatan
mengumpulkan sampah-sampah sisa makanan dan mencuci peralatan makannya sendiri.
Suatu kejadian yang membuat kami takjub karena melalui kegiatan makan siang
bersama di sekolah banyak pelajaran yang bisa berharga dipetik.
Di Jepang, anak-anak sekolah mulai belajar
sekitar jam 8.30 – 15.30 dan jika ada kegiatan ekstrakurikuler hari itu akan
dilanjutkan sampai jam 17.30, jadi kemungkinan mereka baru sampai di rumah
malam pada hari itu. Orang tua tidak perlu repot-repot memikirkan dan
menyediakan makanan siang anaknya karena menu makanan yang disajikan sudah
diatur dan ditentukan oleh ahli gizi. Biasanya menu akan berlaku selama sebulan
dan bulan depannya akan berganti dengan standar gizi yang sama. Mereka tampak
lahap menyantap menu yang disediakan, tak satupun yang tidak menghabiskan
makanannya. Sebagai orang tua, betapa bahagianya melihat mereka makan dengan
lahap tanpa pernah mengeluh makanannya tidak enak, bergizi pula. Bandingkan
anak-anak kita yang sering mengeluh jika menu yang tersedia tidak sesuai dengan
kesukaan mereka, apalagi kalau bukan makanan instan yang konon telah membuat
anak-anak kita, generasi penerus yang lemah fisik gampang terkena penyakit.
Di sisi lain, acara makan siang juga menjadi ajang melatih disiplin
anak-anak mereka dalam bekerja sama denga tim atau kelompok. Secara bergantian,
di tiap kelas ada kelompok yang bertugas menyiapkan/menyajikan makanan untuk
teman-temannya di kelas. Mulai menyajikan/membagi dalam makanan secara adil
dalam piring-piring yang dilakukan di ruang tertentu, kemudian mengantarkannya
ke kelas. Setelah semua teman-temannya mendapat bagian, kemudian makan bersama
juga secara berkelompok sambil berinteraksi sesamanya. Yang menariknya lagi
jika ada kelebihan makanan, misalnya ikan atau buah setelah semua mendapat
bagian, maka bagi mereka yang menginginkannya tidak boleh langsung
mengambilnya. Petugas tadi akan menanyakan kepada semua temannya dalam ruangan
dan jika jumlah anak yang berminat lebih banyak dari pada makanan yang akan
dibagi, mereka yang berminat akan diundi atau melakukan shut sampai jumlah
siswa yang tersisa sama dengan jumlah makanan tadi. Cara ini sebenarnya melatih
siswa berlaku jujur dan adil.
Setelah selesai makan mereka mengumpulkan
pembungkus susu yang telah diminum untuk diserahkan ke pengelola daur ulang.
Peralatan makan kemudian kembali dibawa ke dapur umum untuk dicuci oleh
tim/kelompok tadi lalu diserahkan kepada pihak kantin atau yang menyediakan
makanan. Kegiatan itu terus dilakukan setiap hari sampai sudah menjadi tradisi
yang membanggakan.
Suatu kejadian menarik di SMP Kambara
Provinsi Shizuoka, ketika anak-anak sekolah yang bertugas membagikan makanan
untuk teman-temannya hari itu tidak sengaja bersenggolan dengan teman lainnya
menyebabkan ada air minum yang tertumpah di tangga menuju lantai dua, dengan
cekatan Kepala Sekolah langsung berlarian masuk ruangan membuat kami kaget,
ternyata Sang Kepala Sekolah masuk mengambil lap dan langsung melapnya sendiri
sampai kering tanpa menyuruh siswa atau guru-guru lainnya yang juga ada di
situ. Hal sepele tetapi akan memberi dampak dan menjadi contoh yang sangat baik
untuk kita semua, bahwa atasan saja dengan sukarela melakukannya, apalagi
bawahannya.
Jadi dari jalanan dan kegiatan makan siang
saja mereka sudah dapat menumbuhkan dan membina disiplin, rasa tanggungjawab, mandiri,
terjalinnya keakraban di antara mereka, kerja sama tim, dan kemampuan
interpersonal lainnya.
Sekarang pertanyaannya adalah apakah kita
sebagai bangsa memiliki budaya yang sangat beragam, tidak memiliki sistem nilai
atau norma warisan nenek moyang kita. Kita tentu sangat kaya dengan sistem
nilai, orang melayu, orang sunda, orang jawa, orang banjar, orang bugis
makassar, dan yang lainnya, masing-masing memiliki sistem nilai. Bukan hanya
itu, pada umumnya masyarakat kita menganut agama tertentu dan penganut agama
terbesar adalah muslim yang jika kita menyaksikan masyarakat Jepang justru
telah melaksanakan prinsip-prinsip dalam islam seperti amanah, tanggungjawab,
kebersihan dan disiplin serta yang lainnya. Padahal mereka dikenal dengan
negeri atheis penganut Shinto (kepercayaan). Negara tidak mengurusi agama
masyarakatnya yang dianggapnya sebagai urusan pribadi masing-masing individu.
Berbagai macam kelebihan tentu tidak
menyebabkan mereka juga luput dari kelemahan, sehingga tidak mengherankan jika
di sana mereka biasa menikah dengan ritual agama tertentu, melahirkan dengan
ritual agama lain dan setelah meninggal disemayangkan abunya di kuil. Angka
kematian di Jepang karena bunuh diripun merupakan yang terbanyak di dunia,
sehingga dikenal ada areal hutan lebat di kaki gunung Fuji yang merupakan spot
pavorit untuk bunuh diri. Ketidakjelasan agama mereka dan prinsip merasa malu
jika gagal dalam tugas tertentu setelah berusaha sekuat tenaga sepertinya
melegalkan cara mereka untuk bunuh diri.
Akhirnya penulis sebagai salah seorang
pendidik berharap tulisan ini dapat menginspirasi siapapun untuk turut mengambil
peranan dalam membangun karakter anak-anak Indonesia yang siap bersaing dengan
anak-anak dari nagara lain.